Keindahan Tiki-taka dan Prioritas Memenangi Kontestasi

Dari dua calon presiden yang akan bertarung pada 2019, diakui atau tidak, Joko Widodo lebih mendominasi. Terutama dalam hal isu positif dan populis. Tontonan yang indah layaknya menonton sepakbola ala tiki-taka.

BELUM selesai pembicaraan publik atas aksi heboh naik sepeda motor pada opening ceremony Asian Games 2018, Jokowi kembali mengundang apresiasi publik. Langkah berikutnya masih terkait even olahraga terbesar se-Asia itu.

Tidak seperti saat pembukaan, Presiden Jokowi tetap turut berpartisipasi tanpa harus berada di Gelora Bung Karno, Jakarta. Ketika even penutupan, Jokowi memilih bersama para pengungsi di tenda pengungsian korban gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Dua even berbeda, namun saling terkait. Umpan pendek, meminjam kosakata dalam sepakbola.

Umpan pendek yang manis kembali dilakukan tidak lama setelah itu. Yaitu, saat kunjungan kenegaraan ke Korea Selatan beberapa hari lalu.

Ada setidaknya dua momen umpan pendek yang kembali dilakukan. Pertama, saat Presiden Jokowi menyempatkan bertemu Super Junior. Boy band kenamaan asal Korsel yang memiliki banyak fans di kalangan muda Indonesia itu sempat juga menjadi salah satu pengisi di even penutupan Asian Games 2018.

Menyikapi kabar pertemuan tersebut, publik Tanah Air, terutama kalangan ELF (Everlasting Friends), sebutan untuk para pecinta K-Pop, heboh lagi.

Umpan pendek kedua adalah saat Presiden Jokowi memberikan kuliah umum di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul. Jokowi memulai pidato dengan membandingkan dirinya dengan pembicara lain yang sudah pernah mengisi podium di universitas tersebut.

Jokowi menyebutkan beberapa tokoh besar sudah pernah berbicara di tempat itu. Dari Presiden Amerika Serikat Barrack Obama hingga Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon. Namun, hanya Jokowi yang pernah melakukan adegan ekstrem sambil naik motor gede. Pemberitaan soal itu sampai pula di Tanah Air.

Jika dikaitkan dengan kontestasi pilpres, rangkaian isu itu tentu indah. Seindah permainan tiki-taka khas Spanyol yang menghibur penonton.

Tiki-taka adalah satu strategi dalam sepakbola yang identik dengan mantan pelatih Barcelona, Pep Guardiola. Intinya, adalah terus melakukan short-pass dengan frekuensi sebanyak-banyaknya dan kecepatan pass secepat-cepatnya. Jarak antarpelaku juga pendek-pendek.

Strategi yang diterapkan Guardiola saat menangani Barcelona itu  berhasil mengantar tim tersebut meraih 14 trofi. Capaian luar biasa karena diraih hanya dalam tempo empat tahun. Bandingkan dengan legenda Barca lainnya, Johan Cruyff, yang hanya memenangi 11 piala selama delapan tahun.

Meski demikian, belakangan sejumlah pelatih disebut-sebut berhasil menemukan strategi penangkal tiki-taka. Piala Dunia 2018 menjadi parameter terkini. Spanyol, negara asal tempat strategi itu lahir, tidak bisa berbicara banyak.

”Buat apa menguasai bola, jika tidak bisa mencetak gol?” sindir Franz Beckenbauer,legenda sepakbola Jerman.

Apa boleh buat, Spanyol menelan pil pahit di Piala Dunia 2018. Mereka tersingkir di babak 16 besar oleh Rusia. Padahal, pada laga itu Spanyol menguasai bola ribuan kali. Namun, faktanya hanya sekali kesempatan mendatangkan gol. Itu pun secara tak langsung. Yaitu, “berkat” kesalahan pemain Rusia, Sergey Ignashevich.

Singkatnya, resep penawar tiki-taka ternyata sederhana. Bertahan serapat-rapatnya, lalu menyerang secepat-cepatnya. Simpel.

Kembali ke soal kontestasi pilpres, apakah dengan demikian berbagai langkah Jokowi yang mirip dengan strategi tiki-taka tidak lagi relevan? Jawabannya tentu tidak. Setidaknya jika  mengacu pada keyakinan para penganut dan pembela tiki-taka. Strategi itu diyakini tidak ada yang salah.

Mereka menegaskan, strategi tiki-taka sesungguhnya bukan hanya menekankan pada penguasaan bola. Inti yang lain adalah mengalirkan bola lebih cepat begitu memasuki daerah lawan. Tujuannya, tentu saja, memperbesar peluang mencetak gol.

Atas hal itu pula, “penguasaan bola” yang dilakukan Jokowi tentu menjadi belum cukup. Mereka yang merasa sebagai pendukung dan relawan juga perlu lebih sigap bergerak. Sebab, keputusan masyarakat pemilih untuk menentukan pilihan saat di dalam TPS tetap harus menjadi orientasi.

Para pendukung dan relawan tidak boleh berpuas hanya dalam penguasaan isu positif dan populis. Engagement harus dilakukan.

Hal paling sederhana yang bisa dilakukan adalah terus menyapa kerabat, tetangga, dan lingkungan sekitar. Di tingkat makro, simpul-simpul massa juga perlu sebanyak-banyaknya dirangkul dan dilibatkan.

Lagi-lagi, semua itu tujuannya agar tercipta gol saat Pemilihan Presiden 2019. Agar gol  ”Jokowi Lagi”. (*)

Pelita Samudra, penikmat bola dan pembaca setia SekaliLagi.Id

 

 

BAGIKAN