Kenali Hypnowriting & Croc Brain

Ada hal menarik dalam acara expert sharing tentang literasi digital di kantor Kementerian Kominfo beberapa waktu lalu.

Ternyata seratusan lebih sarjana dari berbagai universitas ternama di Indonesia yang hadir, bahkan pemateri lain, tidak menyadari sebagian besar status atau meme di media sosial yang menimbulkan kontroversi, memang didesain secara khusus untuk memicu perdebatan, percekcokan, dan silang sengkarut orang ramai.

Targetnya menciptakan segregasi sosial berdasarkan kelompok; membangun dan mengentalkan sikap ingroup-outgroup dalam masyarakat. Tujuan akhirnya menciptakan kelompok pendukung politik yang fanatik, pemarah, dan “kebal terhadap data dan fakta” yang disodorkan.

Kok bisa? Bisa saja. Bahkan sangat bisa! Caranya memakai teknik hypnowriting! Saya menguasai teknik tersebut dan sudah lama menggunakannya untuk keperluan wawancara investigasi.

Namun, siapa yang menggunakan teknik hypnowriting? Para cyber army kedua kubu politik yang bersaing, baik di kubu pemerintah maupun oposisi. Mereka bisa relawan, profesional, cyber army sewaan, atau cyber mercenaries.

Apa yang disasar? Croc brain manusia, di mana security/insecurity feeling berada. Kedua jenis perasaan itu adalah basic instinct, landasan survival spirit manusia.

Cara menguliknya dengan mendesain narasi-narasi dan gambar-gambar yang disisipi pesan subliminal. Pesan tersembunyi itu tidak akan ditangkap neocortex, di mana pikiran kritis dan logika berada, tapi langsung menusuk croc brain!

Contoh nyata. Apa target menggembar-gemborkan isu 10 juta tenaga kerja Cina masuk ke Indonesia? Rasa takut kehilangan pekerjaan, tidak kebagian lapangan kerja, dan menganggur. Konsekuensinya, reaksi primitif pun langsung terpicu saat croc brain merasa terancam.

Dan hampir semua orang tidak paham, reaksi primitif croc brain tidak dapat dihadapi dengan data. Dalam kondisi itu, percuma saja diberikan data-data dari sumber yang kredibel. Sebab, data hanya bisa dicerna otak modern, neocortex, bukan oleh croc brain. Terjawab sudah soal “kebal data” itu.

Bagaimana menghadapinya? Mau menyajikan data? Silakan saja. Tak masalah. Namun, sebaiknya mesti membangun kesadaran bahwa data itu bukan untuk mereka yang “kebal data”, melainkan untuk memelihara kewarasan orang yang masih mengedepankan neocortex untuk berpikir.

Akhitnya bisa dimengerti mengapa orang-orang pinter bisa “kena” hal-hal yang tak masuk akal. [*]

* Haryoko R. Wirjosoetomo
Materi kelas expert sharing literasi digital di Kementerian Kominfo, Juni 2018

 

BAGIKAN