Ketulusan Pemimpin Sejati

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Bapak Presiden yang terhormat. Perkenalkan kami petani biasa. Bahkan, pekerjaan sehari-hari kami, selain bertani terkadang juga harus menyempatkan bekerja serabutan, demi memenuhi tuntutan kewajiban dan kebutuhan.

Kami sebenarnya tidak terlalu tahu tentang kondisi negeri ini, lebih-lebih tentang perjalanan kepemimpinan Bapak. Selain hidup di daerah yang sangat terpencil, begitu sulit mengakses informasi, hingga sejauh ini Allah belum juga menakdirkan kami untuk sekadar memiliki televisi, Hp, ataupun sebentuk perangkat lain yang bisa kami fungsikan untuk mengikuti perkembangan informasi. Semua itu masih jauh panggang dari api.

Bapak Presiden yang terhomat. Mengawali semuanya, kami sangat mengenal Bapak, walau belum tentu Bapak mengenal kami. Tapi kami menyadari dan memaklumi hal itu. Bapak orang nomor satu. Seorang presiden. Maka, suatu yang naif apabila kami yang tidak mengenal Bapak.

Di tahun 2018 ini usia kepemimpinan Bapak memasuki tahun keempat dalam satu periode menjabat presiden di negeri ini. Entah, rasanya kita baru menjalani beberapa saat saja. Sungguh! Kami jujur. Dan ini bukan modus, Pak. Mungkin karena kita jarang ketemu, ya? Atau, entahlah.  Semoga saja kita dan seluruh penduduk negari ini senantiasa dalam lindungan-Nya. Amin.

Bapak perlu tahu, kami menulis surat ini nyaris semalam suntuk. Karena benar-benar grogi. Kami hanya petani, mau mengirim surat kepada Bapak orang nomor satu di negeri ini? Tapi semoga saja surat ini sampai di hadapan Bapak dengan keadaan utuh dan sempurna.

Semenjak kami mengenal Bapak, jauh sebelum menjadi presiden, kami sudah menaruh kagum dan diam-diam memiliki perasaan sama Bapak. Tapi perlu digarisbawahi, ini bukan sekadar perasaan Romeo pada Juliet atau Milea pada Dilan. Tapi perasaan seorang rakyat jelata kepada penguasa. Tentu hati nurani alasan utamanya!

1
2
BAGIKAN