Konsisten Membela Palestina

“Palestina menjadi prioritas utama selama Indonesia menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB. Indonesia terus berada di garis depan bersama dengan perjuangan bangsa Palestina untuk mencapai kemerdekaan dan hak-haknya,” kata Presiden Jokowi dalam Sidang Tahunan HUT Ke-73 RI, 16 Agustus 2018.

Sebelumnya, pada KTT Ke-9 ASEAN-PBB, di Manila, 13 November 2017, Presiden Jokowi mengajak seluruh ASEAN bersama-sama PBB mendukung kemerdekaan Palestina. Bahkan secara khusus menitipkan Palestina kepada Sekjen PBB. Presiden Jokowi meminta agar PBB lebih berkontribusi mewujudkan impian rakyat Palestina untuk mendapatkan kemerdekaan penuh.

Selanjutnya pada 7 Desember 2017, Presiden Jokowi juga menegaskan dukungan terhadap cita-cita kemerdekaan Palestina. Komitmen itu disampaikan menyikapi pengakuan sepihak Yerusalem sebagai ibu kota Israel oleh Presiden AS Donald Trump.

“Saya dan rakyat Indonesia tetap konsisten untuk terus bersama rakyat Palestina dalam memperjuangkan kemerdekaan dan hak-haknya sesuai dengan amanah Pembukaan UUD 1945,” kata Presiden Jokowi, kala itu.

Presiden Jokowi mengecam klaim AS atas Yerusalem merusak semua upaya perdamaian sekaligus memicu ketegangan dan konflik baru. Juga membahayakan proses damai yang lama dirintis. Pengakuan sepihak itu bertentangan dengan semua kesepakatan internasional, resolusi PBB, dan juga fakta sejarah.

Indonesia akan melakukan segala upaya menentang klaim itu. Presiden Jokowi memerintahkan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi memanggil Dubes AS untuk menyampaikan sikap Indonesia.

Indonesia juga menggalang dukungan untuk Palestina dengan mendesak Organisasi Konferensi Islam (OKI) mengadakan sidang khusus menolak klaim AS.

Presiden Jokowi menegaskan dukungan Indonesia kepada Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan menjamin negara-negara lain, terutama anggota OKI, tidak akan mengikuti jejak AS mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Sejak masa Presiden Soekarno, Indonesia menolak mengakui Israel sebagai negara dan menganggap sebagai penjajah. Pada tahun 1957, ketika kesebelasan Indonesia di zona Asia tinggal menghadapi Israel untuk berlaga di Piala Dunia, Indonesia menolak berlaga di Jakarta atau di Tel Aviv, ibu kota Israel. Kesebelasan Indonesia hanya mau bertanding di tempat netral tanpa memperdengarkan lagu kebangsaan. Saat menjadi tuan rumah Asian Games IV tahun 1962, Indonesia menolak kehadiran kontingen Israel.

Bahkan Presiden Soekarno memutuskan Indonesia keluar dari keanggotaan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 7 Januari 1964 antara lain juga karena menolak Israel menjajah Palestina. “Dengan menguntungkan Israel dan merugikan negara Arab, PBB nyata-nyata menguntungkan imperialisme dan merugikan kemerdekaan bangsa-bangsa,” katanya.

Bagi Bung Karno, dukungan Indonesia untuk kemerdekaan Palestina bersifat wajib karena merupakan utang sejarah. Palestina merupakan salah satu entitas internasional yang mengakui kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945. Sejarah itu membuat Indonesia memiliki utang seumur hidup untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina.

BAGIKAN