Kritik Sayang dan Perhatian

Jangan terima aku apa adanya. Tuntutlah sesuatu biar kita maju ke depan

Begitu petikan syair lagu “Jangan Terima Aku Apa Adanya”. Setelah mendengar lagu yang dinyanyikan Tulus itu saya berandai-andai, jika Presiden Jokowi melantunkan sepenggal syair lagu itu terasa menenangkan. Kemudian saya teringat kejadian ketika Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia mengacungkan kartu kuning sambil meniup peluit panjang. Presiden Jokowi menanggapi secara positif dengan mengatakan akan mengirim Ketua BEM UI ke Asmat, Papua, supaya melihat kondisi yang sebenarnya di sana.

Lagu Tulus itu kemudian saya maknai sebagai kritik si penyanyi agar hubungannya menjadi harmonis. Begitu pun saat Ketua BEM UI mengkritik dan menuntut tiga  hal kepada Presiden Jokowi. Mengkritik menurut saya merupakan bentuk sayang dan perhatian kepada subjek yang dikritik. Bukan berarti subjek tersebut dibenci.

Berangkat dari keresahan terhadap pemerintahan, saat ini saya mempunyai beberapa tuntutan. Pertama, mengenai revolusi mental dan pendidikan. Mahasiswa adalah penerima tongkat estafet kepemimpinan bangsa. Namun slogan tersebut belum dibarengi kebijakan untuk mewujudkannya. Seperti pada pembentukan karakter yang terdapat dalam salah satu Program Nawa Cita.

Menurut saya, karakter seorang terbentuk dari pergaulannya, keluarga, dan teman-teman. Tidak diperoleh dari pendidikan akademis. Pendidikan akademis itu penting tapi hanya untuk menambah wawasan seseorang. Apalagi jika di kelas dalam keadaan tegang ditambah lagi pengajarnya killer, makin suram kehidupan pemuda.

1
2
3
BAGIKAN