Niat Baik Presiden Wong Cilik

Bapak Jokowi…

Saya mempunyai cerita tentang bapak saya. Cukup kagum dengan makhluk Tuhan yang satu ini. Mantan tukang kayu yang beralih profesi menjadi sopir bus antarkota antarporivinsi, jurusan Semarang – Surabaya dengan warna putih bercorak merah. PO Indonesia nama bus tersebut. Saya hafal karena bus itu lewat jalan pantura melewati Tuban, Lamongan, dan menggunakan Tol Kebomas Gresik untuk sampai di Terminal Bungurasih. Dengan kondisi jalan yang rusak bergelombang akibat tonase berlebihan truk-truk besar, suatu pekerjaan yang tidak mudah untuk seorang sopir melewati jalan dengan kondisi seperti itu, untuk tujuan mulia mengantar penumpang selamat sampai tujuan. Mirip dengan Bapak Jokowi. Perbedaannya bapak saya sopir bus, tapi Bapak Jokowi sopir negara.

Joko Widodo, sosok pemimpin yang saat ini memimpin negara Indonesia. Cukup puas dan kagum dengan progam-progam beliau sebagai Presiden RI. Mulai pembangunan, Kartu Indonesia Pintar, Kartu Indonesia Sehat, dan masih banyak lainya lagi yang sudah dirasakan masyarakat Indonesia. Entah masyarakat yang mana, masyarakat bawah sudah merasakan. Tapi para pejabat tinggi negara pemegang progam proyek tersebut juga masyarakat Indonesia, yang menurut saya lebih bisa merasakan nikmatnya progam mulia Bapak Jokowi.

Intinya, niat baik presidene wong cilik ini sudah sampai di masyarakat, meski dari 63 janji kampanye itu belum semuanya terealisasikan. Kita bayangkan saja jika 63 janji manis itu terealisasikan dengan baik, maksud saya baik dalam proses pengerjaannya disertai kejujuran tanpa kemunafikan, keegoisan, dan keserakahan para penyelenggara proyek dan semua elemen pelaksananya, bukan tidak mungkin Indonesia akan di atas negara-negara tetengga seperti Malaysia, Singapura, bahkan USA. Bolehlah mahasiswa bodoh seperti saya sedikit berhalusinasi.

Satu hal yang saya ingat selaku konsumen televisi aktif, Pak Jokowi adalah pendekar blusukan. Ditambah progam beliau yang sempat saya dengar di salah satu acara televisi, yaitu “Dua jam di kantor selebihnya di lapangan”. Tapi sekarang terlihat jarang Pak Jokowi turun lapangan. Padahal salah satu faktor yang membuat saya kagum kepada Bapak adalah terobosan blusukan itu, biarpun pada saat pemilihan presiden saya tidak memilih Bapak Jokowi dengan alasan Jakarta masih butuh Bapak. Entah apa yang membuat Bapak mengurangi progam blusukan, mungkin di kantor ada hal yang lebih penting untuk negara. Kasus e-KTP misalnya yang banyak menyeret nama besar. Sabar Pak, ini mungkin ujian seorang pemimpin yang baik.

Semoga surat sederhana ini bisa bermanfaat. Semoga tidak menjadi iklan pendukung Anda dan juga batu sandungan “panjenengan” untuk maju di pilpres berikutnya.
Bukan hadiah dua juta rupiah yang saya inginkan, tapi ketika aspirasi saya ini bisa sampai, terdengar, dan ada tindak lanjut itu adalah hadiah yang tidak akan bisa dibeli dengan uang. Biarpun Bapak mau membelinya, masyarakat tidak akan rela aspirasi ini terbeli.

Yoyok Eko Prastyo

BEM Universitas Islam Darul Ulum

Lamongan, Jawa Timur

*Peserta Lomba Surat Cinta untuk Jokowi

BAGIKAN