Perlu Satu Periode Lagi

Ini merupakan surat cinta pertama saya kepada seorang presiden, tepatnya kepada seorang laki-laki. Untuk urusan surat-menyurat dalam percintaan, saya memiliki banyak pengalaman traumatis. Setelah surat cinta yang saya tulis untuk seseorang, pada masa saya (merasa) ganteng-gantengnya, tak menuai balasan, kegesitan saya merangkai kata-kata indah (manipulatif), hilang seketika.

Karena cinta adalah soal rasa, saya perlu memberi Anda nilai A-plus untuk satu hal, meski bukan satu-satunya hal. Terhadap apakah nilai itu kuberikan? Selain atas kinerja semasa menjabat, perilaku dan kepribadian sebagai pejabat, perawakan (kurus) Anda itulah salah satu poin yang membuat saya terpikat.

Harus saya akui, kekonsistenanmu untuk mempertahankan perawakan tersebut, tentu tidak mudah. Bahkan, bagi saya, orang seperti itu sangat wajar jika kemudian berkelakar, “Menjadi kurus itu berat, kau takkan sanggup. Biar aku saja.” Sayangnya, hal tersebut tak kunjung Anda ucapkan. Andai saja kalimat yang menjadi viral itu Anda lontarkan, barangkali mampu mengobati hatiku yang belum berkesempatan menonton film remaja berjudul Dilan.

Meskipun demikian, saya tak kecewa. Sebab, bagi saya, Dilan yang sesungguhnya adalah Anda. Ya, drama yang sesungguhnya yang layak ditonton itu ialah Anda: sebagai aktor tunggal di Indonesia. Mengikuti rangkaian episode yang Anda lakoni terdapat kelebihan tersendiri, selain karena tidak perlu merogoh kocek di kantong yang robek, peran yang Anda mainkan pun menjamin interaksi publik secara spontan. Tentu hal ini jauh berbeda dari lakon Dilan yang acapkali merasa keberatan itu.

Kembali pada bahasan kekurusan perawakan Anda, saya menemukan ungkapan seorang dokter pakar diet, Phaidon L Toruan, yang mengatakan bahwa faktor genetik berperan menjadikan seseorang bertubuh kurus. Artinya, masih terbuka beberapa kemungkinan yang dapat menjadikan Anda gemuk pada saat mendatang.

Setelah bersusah payah bergerilya di Google, saya belum juga menemukan seorang pun dari keluarga Anda yang memiliki tubuh gemuk. Setiap foto terlihat orang-orang yang percaya diri dengan dunia kekurusannya. Upaya saya untuk mencari tahu faktor apa saja yang menjadikan Anda kurus, tidak berhenti di sini. Saya pun beranjak pada penelitian lain. Kali ini dilakukan oleh Louis Milliard (dkk) dari Univercity of Bristol. Penelitian itu menyebutkan, orang gemuk memiliki kecendrungan bahagia ketimbang orang kurus. Penelitian ini telah dipublikasikan di Internasional Journey of Epidemiology.

Dag-dig-dug, saya membaca temuan ini. Terlintas kekhawatiran, jangan-jangan kekurusan Anda akibat dari ketidakbahagiaan. Lagi-lagi terhadap kekhawatiran tersebut tidak mudah bagiku untuk percaya begitu saja. Sebab, meskipun semasa kecil Anda dikucilkan dengan adanya praktik penggusuran rumah, sekarang Anda adalah orang yang berpotensi untuk (bahagia) menggusur atau justru membangun rumah (ala) rakyat.

Barangkali masa kanak-kanak Anda sukar menemukan makanan lezat dan enak, tapi sekarang Anda adalah orang yang mungkin dapat (bahagia) menikmati beragam kuliner seperti yang Kaesang dan Gibran hasilkan. Begitupun dengan kebebasan Anda yang pernah terampas oleh keminiman fasilitas. Tapi, sekarang Anda adalah orang yang menduduki jabatan tertinggi di negara ini, sekaligus memungkinkan (bahagia) menerima tawaran tak terbatas. Situasi di atas mengindikasikan kemuskilan Anda bertubuh kurus karena ketidakbahagiaan.

Sampai di sini, saya berkesimpulan kurusnya tubuh Anda sangat kecil kemungkinan akibat faktor genetik. Saya melihat banyak faktor lain yang semestinya dapat mendongkrak “pertumbuhan” tubuh kurus itu. Hal ini didukung  fakta di tengah-tengah kita: banyak pejabat yang semula kurus, mendadak gemuk dan buncit, kurus kembali begitu memasuki jeruji besi.

Apabila dikatakan kurusmu akibat kurangnya kebahagiaan, saya tak berkeberatan barang secuil pun. Begitu memang, setiap pemimpin yang “over dosis” mengonsumsi kebahagiaan akan kesulitan membuat kebijakan yang berpihak kepada mereka yang dilanda kesusahan/kesengsaraan.

Saya menduga, “kurus” merupakan identitas diri Anda, sebagaimana Anthony Giddens pernah menyinggungnya, sehingga menjadi mahfum bila terdapat pesan di dalamnya: kurus merupakan simbol dari kerja dan kinerja. Terima kasih saya sampaikan kepada Anda, karena telah memilih dan mempertahankan kekurusan tersebut.

Perlu tenaga ekstra, tentunya, untuk menjaga konsistensi di tengah-tengah terpaan berragam potensi. Menjadi seorang pemimpin, “kurus sebagai simbol” dan “kurus sebagai nilai” menjadi penting untuk diperhatikan. Keduanya akan membentuk pola pemerintahan yang terus bergulir, mulai dari kerja, terkerjakan, hingga kinerja.

Mulai sekarang, saya akan mengabdikan diri untuk meneliti tubuh Anda yang kurus tadi. Jika situasi itu tetap bertahan hingga 2019, sudah seharusnya Anda memimpin negara ini satu periode lagi.

***

MN Abu Bakar, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

*Peserta Lomba Surat Cinta untuk Jokowi

BAGIKAN