Strategi Sangkar Burung dan Pemenangan Jokowi

Jepang gagal melaju ke babak 8 besar. Namun, bagaimanapun, “Samurai Biru” telah menjadi satu-satunya tim dari Asia yang mampu lolos di perhelatan 16 besar Piala Dunia 2018. Strategi “Sangkar Burung” mengantarkan mereka masuk 16 besar dunia.

Pelita Samudra

Strategi itu diterapkan di pertandingan penghujung menjelang 16 besar. Yaitu, ketika melawan Polandia. Meski kalah, timnas Jepang berhasil mengamankan  tiketnya lewat strategi “Sangkar Burung”.

Sayang, strategi itu tidak kembali diterapkan saat melawan Belgia di pertandingan berikutnya. Padahal, Jepang sudah sempat unggul 2-0 hingga menit ke-68.

Nishino, sang pelatih, terlalu naif. Bukannya, mengubah strategi untuk menjaga kemenangan, Negeri Matahari Terbit tetap berusaha tampil dengan permainan cantik. Mereka berharap ada gol ketiga yang lahir. Ia melupakan strategi “Sangkar Burung” yang diterapkan sebelumnya.

Istilah strategi “Sangkar Burung” dikenal atau dimunculkan di film animasi Jepang, Captain Tsubasa. Yaitu, ketika tim Shutetsu yang dikapteni kiper Wakabayashi bertanding dengan tim Nankatsu yang diperkuat Tsubasa.

Saat itu Shutetsu sedang di posisi unggul 1-0. Ingin mempertahankan kemenangan, Wakabayashi lalu mengintruksikan teman-temannya agar menggunakan strategi tersebut. ”Sangkar burung,” teriak Wakabayashi dari bawah mistar gawang.

Strategi itu membuat Tsubasa dan kawan-kawan kebingungan. Mereka kesulitan merebut bola dari lawan. Tim Wakabayashi memainkan umpan-umpan pendek di wilayah sendiri. Sesekali mereka memang masuk ke daerah pertahanan lawan.

Namun, bukannya meneruskan serangan, bola diumpan lagi ke teman di belakang yang kosong. Tentu saja sambil terus berharap pertandingan  segera usai.

Intinya, strategi tersebut memang bukan bertujuan mencetak gol. Tapi, lebih untuk mengulur waktu. Sekaligus membuat lawan stres karena kesulitan mendapatkan bola. Pemain lawan dibuat seperti sedang berada dalam sangkar burung.

Tapi, sudahlah, Jepang sudah dipastikan gagal melaju ke babak berikutnya. Namun, pelajaran bisa dipetik dari sukses sekaligus kegagalan Jepang di Piala Dunia 2018.

Salah satunya, terkait upaya pemenangan dan mengantarkan kembali Joko Widodo memimpin pada 2019. Sepak bola juga berhubungan dengan politik? Mengapa tidak.

Saat ini Jokowi sementara unggul. Itu realitas. Berdasar hasil survei berbagai lembaga, elektabilitas presiden ke-7 RI itu berada di puncak. Jangankan mengalahkan, belum ada satu tokoh pun di negeri ini yang elektabilitasnya mendekati mantan Wali Kota Solo dan Gubernur DKI Jakarta itu.

Namun, apakah kondisi dan situasi hari ini akan bertahan hingga April 2019? Tentu, terlalu gegabah jika sudah ada yang berani memastikannya sedari sekarang. Berkaca pada Pilpres 2014, Jokowi juga baru benar-benar muncul secara cemerlang sekitar 6 bulan terakhir menjelang pilpres.

Lalu, apakah kemudian Jokowi dan para pendukungnya perlu mengadopsi strategi “Sangkar Burung”? Tidak dalam kapasitas kita pula untuk menjawabnya. Jokowi dan para pendukung utamanya yang punya relevansi untuk mengukur. Basisnya tentu pemahaman yang baik terhadap kekuatan, kelemahan, tantangan, ataupun ancaman yang ada.

Kuncinya, tidak boleh naif. Sukses sekaligus kegagalan Timnas Jepang telah menjadi pelajaran penting. Mempertahankan adrenalin penikmat bola atas permainan sepakbola ofensif memang penting. Namun, hal terpenting tetap adalah kemenangan. [SL2]

Pelita Samudra, penikmat bola dan pembaca setia SekaliLagi.id

BAGIKAN