Terima Kasih Pakde Joko

Saya paham, di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna kecuali dalam drama Korea. Putri Pak Joko, Kahiyang Ayu, mungkin tahu ada sebuah judul drama yang menceritakan makhluk bernama Goblin yang bisa mengabulkan hal-hal di luar nalar. Ia mampu menciptakan emas saat mabuk, membaca masa depan seseorang, pergi ke berbagai penjuru dunia dalam hitungan detik, bahkan bicara dengan malaikat maut. Semua itu bisa dilakukannya dengan mudah.

Pak Joko, sejak kecil saya dipaksa untuk menonton berita politik oleh Bapak. Beliau membiasakan saya untuk melihat bagaimana kekayaan negeri ini menghilang dalam kantong-kantong gendut pejabat negara. Praktik KKN menggerus harapan masyarakat kecil seperti saya dan kebanyakan orang, membuat kami terbiasa untuk pasrah. Seorang anak pejabat yang meneruskan jabatan orang tuanya adalah berita yang kami lahap setiap hari.

Menginjak remaja, kesempatan untuk ikut pemilihan umum membuat saya sempat optimistis akan datangnya sebuah perubahan. Calon-calon dengan wajah dan postur tubuh yang gagah, bertebaran di tembok-tembok kampung kami. Namun, di akhir pesta itu, kami pun menyadari bahwa pemilihan umum hanya sebuah ajang tontonan lima tahunan. Negara ini tetap saja berada dalam posisi yang memprihatinkan.

Maka pada tahun 2014, saat seseorang menyebut Pak Joko sebagai kandidat presiden, saya hanya tersenyum, tanpa berkata-kata. Tidak ada harapan di dada saya akan hadirnya seseorang yang berniat membenahi kebobrokan negeri ini. Jadi, jujur saja Pak, hingga pagi di perjalanan ke TPS, saya masih bimbang untuk memilih pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Hanya Tuhan yang tahu, bagaimana tangan saya akhirnya mencoblos kolom pasangan nomor dua.

Tidak terasa sudah tiga tahun lewat sejak Bapak duduk di bangku tertinggi sebagai orang nomor satu di negeri ini. Perlahan, luka-luka negara ini mulai berhenti berdarah. Senyum bahagia saudara-saudara kami perlahan mulai ada. Pembangunan infrastruktur di Papua, Sumatera, Kalimantan, dan daerah tertinggal lain, menjadikannya kembali terlihat sebagai bagian dari anak bangsa. Terlalu banyak hal baik yang satu per satu terjadi di negara ini, yang tidak mungkin diurai dalam narasi pendek oleh seorang penutur yang lemah dan rendah ilmu ini.

Meski di luar sana masih banyak saudara kami yang belum dapat berterima kasih atas perubahan baik yang di negeri ini, tolong maafkanlah mereka, Pak. Mereka hanya belum memiliki kesempatan untuk memahami hal yang tengah terjadi pada saudara-saudaranya yang terlupakan setelah sekian puluh tahun di pedalaman sana. Bapak memang bukan Goblin yang bisa menciptakan keajaiban. Bapak hanya seorang yang benar-benar mau membawa negeri ini kembali diperhitungkan dalam perkembangan dunia. Namun, sebagai penggemar drama Korea, biarkanlah saya menganggap Bapak sebagai Goblin bagi negara ini.

Akhir kata, izinkanlah saya mengucapkan, Samchon, gomapseumnida. Terima kasih, Pakde Joko.

*Endah, peserta Lomba Surat Cinta untuk Jokowi

BAGIKAN